Jatinangor

Malam hari, malam sebelum pelaksanaan UTBK gelombang kedua di Jatinangor,


"Dek, hayu mau ke atas gak? Pemandangannya enak hayoh, tapi sekarang cuaca lagi dingin. Bawa selimut"

Kudatangi tempat lantai tiga berbalut semen, sisinya dipagari kawat besi yang cukup reot.

Tersedia hanya satu kursi. Dan aku duduk di bawah.

Dibawa secangkir milo hangat, kami meminumnya bergantian.

Kupandangi tiga gunung berdekatan, tepat berada di depan mata kami.

Dibawahnya ada jalan berlika-liku dan juga ada rumah yang tersebar sembarang.

Mobil motor pun lewat.

Suasana gelap, hanya ada lampu kendaraan dan beberapa rumah yang menyala,

ternyata ini bukan kota.

Menarik.


"Dari semua yang ada disini, yang kakak suka gunung. Kenapa cing?"
"Soalnya habis ini mau sosoan bikin quotes", jawab aku.
"Naon. Soalnya di film Mulan, kaisarnya bilang kalau sebesar apapun badai, gunung gaakan pernah tunduk. Jadi kakak suka. Jadi keliatannya tangguh"
"Oh"

Kukembali menatapi kesibukan jalanan.

Kendaraan berlalu lalang, pergi dan kembali.

Perasaan, mobil itu besar, kok disini kecil?
Perasaan rumah itu lebih besar daripada mobil, kok disini kecil?
Perasaan, pohon yang ada itu lebih besar daripada rumah, kok disini kecil?
Perasaan, jalanan itu lebar, kok disini hanya setapak?
Perasaan, satu komplek itu besar, kok disini kecil?

Aku merenung.

Akan sekecil apa ukuran manusia itu?
Seharusnya,
jika manusia itu kecil,
masalahmu tak seberapa, bukan apa-apa.
Jika manusia itu banyak,
kamu tak sendiri, manusia lain pun ada dengan masalahnya.
Jika manusia itu merasa paling sibuk,
Tuhan justru lebih sibuk.
Jika manusia sombong dengan segala yang ada ditangannya,
Tuhan lebih berhak sombong karena kita semua ada ditangannya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer