Kertas, Pena, dan Harapan


Tepat pukul 22.00 malam, ku tulis cerita ini yang kutunjukan untuk diriku sendiri.




       Umur 10 tahun, cerita ini dimulai. Saat itu fungsi kertas dan pena mulai kupahami jika itu dapat membantu mewujudkan hal yang diinginkan. Tentang ekspektasi yang terkesan indah, ditulis menjadi harapan yang diberi judul "Rencana Tahun Ini". Kuyakini cara tersebut memang membantu karena seiring berjalannya waktu hal itu menjadi kenyataan dan aku merasakannya. Aku pernah menulis saat SMA, keinginan nomor delapan belas yaitu "Semester 5 aku naik podium karena dapat urutan tiga besar" hanya karena aku ingin tahu rasanya nama lengkap seseorang itu disebut dan dipersilakan untuk naik ke atas podium, menerima penghargaan, dan tepukan. Setelah menerima, ucapku dalam hati: "oh begini rasanya". Senang, tapi setelahnya biasa saja karena rasa penasaran sudah terjawab. Rasanya seperti bercanda menginginkan sesuatu yang menurutku konyol alasannya namun takdirnya dapat terwujud. Disinilah aku mulai berpikir bagaimana sebuah kertas berisi harapan dan keyakinan itu bekerja dan saling memengaruhi.

       Menurutku dengan penjelasan yang sederhana, pada awalnya kamu menginginkan sesuatu atau ingin menjadi sesuatu, dimana ketika kamu membayangkannya hal itu indah, kemudian kamu cantumkan pada kertas di dinding. Ketika kamu membacanya setiap hari, tulisan itu menumbuhkan keyakinan dan kepercayadirian di alam bawah sadarmu untuk terus mengejarnya. Secara tidak langsung intuisi menginstruksi: curahkan tenaga dan pikiranmu yang terbaik!. Juga ada hal yang tertanam dalam pikiranmu "aku akan bahagia jika aku dapat mewujudkannya". Tidak perlu menyanggah kalau kamu tidak begitu berharap dengan ekspektasimu, karena dengan hanya menulis sedikit saja keinginan, kamu sudah mulai berharap. Tentang bahagia yang dimaksud adalah bahagia baik yang disebabkan karena mendapat manfaatnya untuk sendiri atau membawa dampak baik pada lingkungan sekitar.

       Setelah kurang lebih 18 tahun jika dirata-ratakan hidup itu berjalan mulus, saat detik itulah mulai ditemui titik minimum dalam hidup. Disini, aku ingin menggaris bawahi ketika mimpi besarmu tak terwujud. Menurutku bukanlah hal aib jika mengakui diri sendiri pernah merasa berantakan. Mengakuinya bukanlah sebuah kesalahan karena tanpa kegelapan kita tidak mengetahui sisi terang. Aku tidak mengatakan nasib siapa yang lebih beruntung. Apakah nasib beruntung akan jatuh pada orang yang setelah kejadian ini ia menjadi orang yang membiarkan semua yang terjadi dalam hidupnya mengalir begitu saja tanpa memusingkannya atau pada nasib orang yang kemudian merenungi, kemudian mengevaluasi dirinya. Karena berbedanya pilihan yang dipilih, menimbulkan berbedanya jalan yang ditempuh, juga berbedanya nilai berharga yang ia temui. Aku tak ingin seorang pun berbohong atas perasaannya walau pahit. Menguburnya dalam-dalam bukan berarti merelakannya, tapi hanya sekedar 'melupakan' dimana suatu saat hal itu bisa diingat lagi. Mungkin pertama kali kamu mengalaminya, bisa saja kamu merasa baik-baik saja. Luka itu masih dalam proses mati rasa karena mungkin ada beberapa hal menyenangkan yang mendistraksi pikiranmu untuk mengabaikannya. Tapi percayalah, setiap baik dan buruk menurut definisi masing-masing itu ada waktunya. Ada kalanya mulut terdiam karena lelah berucap juga ada mulut yang berucap karena lelah untuk menyimpan. Ya, akhirnya kamu sadar rupanya kamu sedang tidak baik-baik saja.

       Coba tanyakan pada dirimu, apa kamu merasa baik-baik saja saat itu karena kamu sudah benar-benar menerima hal yang sudah mengecewakanmu? Sekali lagi, aku senang dengan perasaan yang jujur. Mungkin bagi sebagian orang sempat merasa kehilangan jati dirinya, merasa dirinya yang sekarang tidak seperti dirinya yang dulu, sering ragu membuat keputusan, bimbang jika dihadapkan dengan beberapa pilihan. Kadang, perasaannya membekas rasa kesakitan. Ingin berusaha optimal, namun bingung bagaimana cara memulai mencurahkannya karena merasa masalah sebelumnya belum selesai, dalam arti, belum berdamai dengan masa lalu.

      Iya, belum berdamai dengan masa lalu. Omong-omong, mengapa ku tekankan untuk jujur? Karena apabila kamu merasakannya kemudian menyanggahnya, kamu akan semakin merasakannya. Terima saja keadaan apabila semua ini memang terjadi dan keaadanmu sedang seperti ini. Rasakan setiap emosi yang kamu terima. Jangan denial. Baik itu marah, sedih, kecewa, menangis, terima saja. Seiring berjalannya waktu pasti kamu sendiri akan menyadari bahwa setiap perasaan sedih, bahagia, cinta, dan lain-lain adalah anugerah. Setiap proses butuh waktu. Dan kata beruntung lagi-lagi tidak dikatakan untuk orang yang prosesnya cepat atau lambat, karena setiap orang akan menerima pelajaran yang berbeda dalam waktunya, semua telah disesuaikan Tuhan sesuai kebutuhunnya hamba-Nya.

       Menurutku ketika dalam posisi seperti ini, sangat tidak disarankan untuk membandingkan dirimu dengan orang lain secara berlebihan. Membandingkan diri sewajarnya boleh, karena ada sebagian orang dengan melihat orang lain menjadi termotivasi untuk membangkitkan dirinya kembali. Namun, apabila tidak siap, justru cara itu akan membuatnya terpukul karena merasa tertinggal oleh orang lain. Sebenarnya, bisa saja tidak merasa terpukul apabila ia bisa berpikir jernih bahwa setiap orang punya perfect timingnya masing-masing. Tapi, untuk jaga-jaga agar hal buruk tidak terjadi, lakukan yang terbaik menurutmu saja.



       "Satu-satunya orang yang dapat menolong dirimu sendiri pertama kali adalah diri kamu sendiri"



       Tapi ingat, jangan berlarut-larut dalam kesedihan yang dirasa. Setelah kamu merasa lega, bantulah dirimu untuk bangkit kembali karena satu-satu nya orang yang paling mengetahui dirimu sendiri adalah diri kamu sendiri. Maka dari itu kamulah orang yang mengetahui pertama kali apakah dirimu butuh pertolongan atau tidak. Jangan lupakan hak atas dirimu untuk merasakan rasa senang dan bahagia kembali. Oh iya, dalam hal ini banyak orang yang miskonsepsi dengan kata-kata "jadi orang itu harus bahagia","tidak boleh sedih","jangan cengeng". Tidak, bukan berati kamu benar-benar harus bahagia, tidak boleh sedih dan tidak boleh menangis. Kamu itu manusia, diciptakan untuk merasakan rasa yang berupa. Jangan menelan mentah-mentah kata-kata itu karena bisa membebani dirimu sendiri. Bisa saja kata itu benar, jika dikatakan di waktu yang tepat.

       Tahu tidak? Sebenarnya memang ada lima tahap dalam kesedihan. Artinya, bukan hal aneh apabila kamu merasakannya, karena memang seperti itu prosesnya. Tahapan ini pertama kali dicetuskan oleh Elisabeth Kubler-Ross di bukunya berjudul “On Death and Dying” (1969). Pertama, Fase Penyangkalan (Denial). Di fase ini, kamu masih belum bisa menerima kenyataan. Kamu merasa seakan baik-baik saja meski tak dapat dipungkiri hatimu remuk redam dibuatnya. Meski sudah tahu kalau keadaan tak lagi sama, kamu masih memaksa untuk membalik keadaan meski semuanya sia-sia. Kedua, Fase Kemarahan (Anger). Kamu mulai marah. Menyalahkan banyak hal. Semua hal-hal buruk kembali masuk dalam ingatanmu. Kamu marah kepadanya, kamu marah dengan dirimu sendiri. Semuanya disalahkan. Rasanya tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi. Ketiga, Fase Tawar Menawar (Bargaining). Kamu berusaha untuk bernegosiasi. Mencoba untuk tawar menawar dengan keadaan dan kenyataan yang ada. Seperti mencoba untuk berusaha seperti dulu lagi. Mencoba untuk berusaha memperbaiki keadaan. Bahkan mungkin kamu akan melibatkan teman-teman atau keluargamu untuk berusaha mengembalikan keadaan. Kamu merasa seakan masih ada jalan keluar yang bisa ditempuh. Keempat, Fase Depresi (Depression). Di fase ini, kamu merasa sudah tidak punya kuasa lagi untuk membalikkan keadaan. Rasanya semua jalan yang ada buntu dan tak bisa ditempuh. Kamu merasa depresi dan mungkin kehilangan nafsu atas sesuatu. Dan yang terakhir, Fase Penerimaan (Acceptance). Setelah jatuh bangun tidak karuan, kamu sudah masuk ke fase terakhir. Fase penerimaan di mana kamu mulai kembali stabil. Kamu pernah jatuh dan terpuruk tapi semua itu sudah berhasil kamu lewati. Kini, kamu sudah merasa lebih kuat. Semua yang berlalu sudah bisa kamu terima dengan ikhlas. Saatnya untuk kembali melangkah dan mengizinkan dirimu untuk memulai sesuatu kembali.


. . .


       Ingat, pasti ada waktunya kamu siap untuk bangkit, beranjak dari masa lalu dan mencoba memulai hal baru. Tentu saja waktu itu akan ada jika kamu mengusahakannya. Entah menjadi seseorang seperti apa nantinya dirimu untuk menjalani hidup (let it flow or planner), nikmati saja prosesnya. Maafkan dirimu yang lalu, siapkan dirimu untuk maju!

       Hal yang aku tekankan disini adalah terima dan rasakan hal yang terjadi dalam hidupmu, karena jika kamu merenunginya dengan baik, percayalah hal itu sangat indah. Sekarang, kamu bisa mengerti bagaimana semesta itu bekerja saat manusia tidak punya kendali. Itulah mengapa ada lirik :


Yang dicari, hilang 
Yang dikejar, lari 
Yang ditunggu 
Yang diharap 
Biarkanlah semesta bekerja 
Untukmu  

Tenangkan hati 
Semua ini bukan salahmu

Jangan berhenti 
Yang kau takutkan takkan terjadi
  
Kita coba lagi 
Untuk lain hari 
Kita coba lagi 
Yang ditunggu 
Yang diharap

Biarkanlah semesta bekerja

Untukmu


       Lucu ya? Tidak semua yang direncanakan, berjalan. Yang kamu tak sangka ada, ia datang. Semesta punya caranya sendiri untuk menyembuhkanmu dan membahagiakanmu. Biarkanlah dirimu rehat untuk mengendalikan semuanya. Dipikir-pikir hidup itu aneh tapi indah bukan? Rasanya hidup seperti grafik sinus. Hidup dimulai dari titik (0,0); kadang titik puncaknya positif, kadang negatif, ada ritmenya dan indah karena tidak datar. Mungkin hal yang bisa menjadi titik minimum ini bisa menjadi titik balik mu untuk mengerti hidup di dunia yang sesungguhnya seperti apa, hukum semesta itu bagaimana, dan lain-lain.

       Siapkan kertas dan pena, kembalilah membangun dan mewujudkan mimpi-mimpimu! Dengan catatan, mimpimu yang agak rasional.



Terlalu rasional, bisa jadi pesimis.



Tetapi terlalu irasional, menjadi tidak realistis.



Jangan iri melihat orang yang menampilkan kebahagiaannya. Memang tak semua yang ditampakkannya adalah benar dan kebahagiaan bukan sesuatu yang diperlombakan, juga diperjualbelikan. Setiap orang punya caranya masing-masing untuk melakukannya. Aku tahu, usia segini merupakan usia dimana ingin bisa melakukan hal yang dapat membanggakan orang lain. Akan lebih baik, semua yang kamu lakukan ditujukan untuk dirimu sendiri, bukan demi penilaian orang lain. Sertailah juga doa kepada Tuhanmu.


Terakhir,


"Setiap orang punya waktu emasnya masing-masing layaknya setiap bunga tidak bermekaran dalam waktu yang bersamaan"

Dan definisi yang paling penting,


"Menjadi manusia itu adalah ketika ia bisa jujur dan memahami keinginannya, kebutuhannya dan perasannya walau pahit"


Jadilah sahabat terbaik yang dapat menenangkan dirimu sendiri.

  

Sekian tulisan ini kutulis,
Berterimakasihlah pada dirimu sendiri.


Kutulis cerita ini dengan perasaan bahagia,
Agar kuingat rasanya muda dikala tua.












Komentar

  1. I agree with it and u know I ever been in that position. Cheers up for whatever come to us sooner or later.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer